Gangguan Mood

Gangguan mood atau suasana hati ditandai oleh perubahan serius dalam suasana hati yang menyebabkan gangguan pada aktivitas sehari-hari. Meskipun banyak subtipe berbeda yang dikenali, ada tiga kondisi utama gangguan mood seperti depresi, manik, dan bipolar

Penyebab gangguan mood

Masih tidak diketahui secara pasti apa yang menyebabkan seseorang mengalami gangguan mood, namun telah diketahui bahwa terdapat dua faktor yang berperan yaitu faktor biologis dan faktor lingkungan. 

Cara Mencegah Terjadinya Gangguan Mood

Sampai saat ini masih tidak diketahui secara pasti cara mencegah terjadinya gangguan mood. Karena penyebab pastinya masih belum ditentukan, namun sangat penting untuk mengetahui gejalanya dan mencari pengobatan sejak dini. Penggunaan obat secara teratur dan berkelanjutan dapat membantu mengurangi gejala-gejala gangguan mood. 

Psychotic Disorders

Psikosis adalah gejala umum dari banyak penyakit jiwa. Kondisi itu menyebabkan seseorang menjadi terpisah dari kenyataan dan berhalusinasi. Penderita menjadi sering mendengar dan melihat sesuatu yang tidak ada. Dalam kasus yang jarang terjadi, mereka bahkan mungkin menyentuh atau merasakan hal-hal yang tidak ada. Hal ini terjadi karena mereka tidak mengetahui mana yang nyata dan tidak, mereka cenderung bereaksi terhadap situasi yang berbeda dan menunjukkan perilaku abnormal. Misalnya, mereka mungkin berdebat dengan orang yang tidak ada.

Gejala Utama Psikosis

  • Melihat dan mendengar hal-hal yang tidak ada
  • Khawatir secara berlebihan tanpa alasan yang jelas
  • Terus-menerus merasa mereka diawasi. Beberapa bahkan merasa bahwa orang lain berada di luar sana untuk menyakiti mereka.
  • Menderita depresi. Mereka selalu merasa murung dan sedih, sering kali karena alasan yang tidak jelas
  • Tidak dapat merasakan emosi yang normal. Mereka acuh tak acuh terhadap perasaan orang lain. Mereka juga tidak merasakan emosi yang dirasakan kebanyakan orang selama kejadian tertentu. Misalnya, mereka tidak merasa senang karena mereka memiliki bayi baru atau tidak merasa sedih saat seseorang yang mereka cintai meninggal dunia.
  • Tidak peduli dengan penampilan dan kebersihan diri mereka
  • Lebih suka sendirian daripada dengan orang lain. Beberapa pasien bekerja ekstra untuk menghindari kontak sosial apa pun.

Borderline Personality Disorders

Borderline personality disorder (BPD) adalah penyakit mental serius yang ditandai dengan perasaan, mood dan perilaku yang tidak menentu. Pasien biasanya memiliki masalah dengan emosi dan pikiran; kadang, mereka memiliki perilaku ceroboh yang menyebabkan hubungan yang tidak stabil. Borderline personality disorder umumnya terjadi pada masa remaja atau masa awal dewasa.

Apa saja tanda-tanda dan gejala dari borderline personality disorder?

Tidak mudah untuk membedakan gejala borderline personality disorder dari kelainan mental lainnya. Namun umumnya, borderline personality disorder dapat didiagnosis dengan tanda-tanda dan gejala berikut:

  • Orang-orang dengan borderline personality disorder biasanya memiliki ketakutan serius terhadap pengabaian atau ditinggal. Mereka kadang memiliki reaksi ekstrem, seperti panik, depresi, marah atau tindakan heboh jika merasa atau benar-benar ditinggalkan.
  • Mereka tidak dapat menjaga hubungan dengan stabil, bahkan dengan keluarga, teman atau orang-orang terdekat. Mereka sering menyebabkan masalah di hubungan tersebut dengan mengidealisasikan seseorang dan kemudian membenci atau marah terhadap orang tersebut secara tiba-tiba.
  • Mereka cepat berubah terhadap emosi, nilai-nilai, perasaan, tujuan yang terkait dengan identitas diri dan gambar diri. Pasien tidak menghargai diri mereka atau merasa mereka tidak ada.
  • Perilaku yang impulsif dan kadang berbahaya, seperti berjudi, menghamburkan uang, hubungan seksual yang tidak aman, penyalahgunaan obat-obatan, berkendara dengan sembarangan, binge eating atau menghentikan kesuksesan secara tiba-tiba, seperti menghentikan pekerjaan atau hubungan yang positif.
  • Perilaku ingin bunuh diri yang berulang atau merusak diri sendiri, seperti menyayat urat nadi, sebagai respon terhadap ketakutan akan perpisahan atau penolakan.
  • Mood yang intens dan mudah berubah, dengan masing-masing episode berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari yang dapat mencakup kebahagiaan yang intens, kekesalan, malu atau gelisah.
  • Sering merasa hampa atau bosan.
  • Kemarahan yang tidak pantas, intens, sinis, memiliki pertengkaran fisik
  • Memiliki pikiran paranoid yang terkait stress atau gejala disosiatif yang serius, seperti merasa terpisah dari diri sendiri, mengamati diri sendiri dari luar tubuh, atau kehilangan hubungan dengan realita.

Post-Traumatic Stress Disorder atau PTSD

PTSD (post-traumatic stress disorder) atau gangguan stres pascatrauma adalah kondisi kejiwaan yang dipicu oleh kejadian tragis yang pernah dialami atau disaksikan. Contoh peristiwa traumatis yang  dapat memicu kondisi ini adalah kecelakaan lalu lintas, bencana alam, tindak kejahatan seperti pemerkosaan atau perampokan, atau pengalaman di medan perang.

Secara umum, gejala PTSD bisa dikelompokkan ke dalam  lima jenis. Berikut ini adalah penjelasan serta contohnya.

  • Ingatan yang mengganggu, contohnya selalu mengingat detail mengerikan dari kejadian tragis atau sering mimpi buruk  tentang kejadian tersebut.
  • Kecenderungan untuk mengelak membicarakan atau memikirkan kejadian traumatis. Kondisi ini ditunjukkan dengan menghindari tempat, kegiatan, atau oranng yang memicu ingatan untuk kejadian traumatis.
  • Pola pikir yang berubah negatif. Pengidap PTSD cenderung memiliki perasaan negatif terhadap diri sendiri atau orang lain, merasa terasing.
  • Merasa putus asa dalam menghadapi masa depan, memiliki masalah ingatan, termasuk mengingat aspek pentingdari kejadian traumatis serta kesulitan membina hubungan yang dekat dengan orang lain.
  • Perubahan emosi. Perubahan  ini ditunjukkan dengan oerbedaan reaksi secara fisik maupun emosi, seperti sulit berkonsentrasi, merasa sangat selalu waspada, mudah terkejut dan takut, mudah kesal atau marah, serta sulit tidur.

Penyebab dan Faktor Pemicu PTSD

Timbulnya PTSD diduga dapat dipicu oleh salah satu atau beberapa faktor di bawah ini, di antaranya:

  • Pernah mengalami peristiwa trauma lain, misalnya penyiksaan saat masa kecil.
  • Mengidap gangguan mental lain.
  • Mengalami trauma jangka panjang.
  • Memiliki anggota keluarga yang mengidap PTSD atau gangguan mental lain.
  • Memiliki profesi yang berpotensi menyebabkan seseorang untuk mengalami kejadian traumatis, misalnya tentara.
  • Kurang dukungan dari keluarga dan teman.

Obsessive-Compulsive Disorder atau OCD

Obsessive compulsive disorder (OCD) adalah gangguan mental yang menyebabkan penderitanya merasa harus melakukan suatu tindakan secara berulang-ulang. Bila tidak dilakukan, penderita OCD akan diliputi kecemasan atau ketakutan.

Gejala dan Diagnosis OCD

Gejala OCD adalah gangguan pikiran yang menimbulkan rasa cemas atau takut terus menerus, dan perilaku yang dilakukan berulang kali guna menghilangkan kecemasan tersebut. Sebagai contoh, penderita OCD yang takut terkena penyakit, akan mencuci tangan secara berlebihan.

Pengobatan OCD

Pengobatan OCD bertujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul, sehingga metode yang dilakukan tergantung kepada tingkat keparahan gejala. Metode pengobatan bagi penderita OCD dapat berupa terapi perilaku kognitif, pemberian obat antidepresan, atau kombinasi dari kedua metode tersebut. Pada beberapa penderita, pengobatan perlu dilakukan seumur hidup

Gangguan Makan

Gangguan makan adalah gangguan mental saat mengonsumsi makanan. Penderita gangguan ini dapat mengonsumsi terlalu sedikit atau terlalu banyak makanan, dan terobsesi pada berat badan atau bentuk tubuhnya.

Ada beberapa jenis gangguan makan, namun tiga jenis yang paling sering dijumpai adalah anoreksia nervosa, bulimia nervosa, dan gangguan makan berlebihan.

Anoreksia nervosa

Gangguan ini membuat penderitanya membatasi asupan makannya karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Penderita anoreksia nervosa juga akan menimbang berat badannya secara berulang-ulang.

Asupan kalori yang terlalu sedikit pada penderita anoreksi nervosa dapat menyebabkan gangguan berupa:

  • Tumbuhnya rambut atau bulu halus di seluruh tubuh (lanugo).
  • Kulit kering.
  • Otot menjadi lemah.
  • Sering merasa kedinginan akibat suhu tubuh yang rendah.
  • Menstruasi menjadi tidak teratur, bahkan tidak mengalami haid.
  • Hipotensi atau darah rendah.
  • Anemia atau kurang darah.
  • Tulang keropos.
  • Beberapa organ tidak berfungsi (kegagalan multiorgan).

Bulimia nervosa

Bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang membuat penderitanya ingin segera membuang makanan yang dikonsumsinya dengan cara yang tidak sehat, antara lain dengan:

  • Memuntahkan kembali makanan yang telah dimakan.
  • Menggunakan obat pencahar atau obat yang membuang cairan tubuh.

Anoreksia nervosa

Gangguan ini membuat penderitanya membatasi asupan makannya karena merasa berat badannya berlebihan, meskipun pada kenyataannya, tubuhnya sudah ramping atau justru terlalu kurus. Penderita anoreksia nervosa juga akan menimbang berat badannya secara berulang-ulang.

Asupan kalori yang terlalu sedikit pada penderita anoreksi nervosa dapat menyebabkan gangguan berupa:

  • Tumbuhnya rambut atau bulu halus di seluruh tubuh (lanugo).
  • Kulit kering.
  • Otot menjadi lemah.
  • Sering merasa kedinginan akibat suhu tubuh yang rendah.
  • Menstruasi menjadi tidak teratur, bahkan tidak mengalami haid.
  • Hipotensi atau darah rendah.
  • Anemia atau kurang darah.
  • Tulang keropos.
  • Beberapa organ tidak berfungsi (kegagalan multiorgan)

Insomnia

Insomnia adalah kondisi di mana Anda merasa sangat sulit untuk tidur, sulit untuk tidur nyenyak, atau keduanya. Kondisi ini bisa menjadi kronis sehingga membuat Anda sama sekali tak bisa tidur, bahkan ketika Anda ingin tidur. Jika memiliki gangguan tidur ini, Anda biasanya akan bangun tidur dalam keadaan lelah. Akibatnya, aktivitas Anda di esok harinya akan terganggu.

Gangguan tidur memiliki dua tipe, yaitu tipe primer dan sekunder. Tipe primer menandakan bahwa insomnia sebagai penyakit, yaitu muncul dengan sendirinya tidak terkait dengan kondisi medis apa pun. Sementara tipe sekunder menandakan sebagai gejala yang muncul akibat adanya kondisi medis lain.

Selain itu, gangguan tidur ini juga dibedakan berdasarkan intensitasnya, yaitu akut dan kronis. Insomnia akut terjadi dalam jangka pendek. Ini berlangsung dari satu malam hingga atau dalam beberapa minggu, hanya saja gejalanya datang dan pergi. Sementara insomnia kronis bisa bertahan lebih lama, yaitu tiga malam seminggu, sebulan, atau lebih dan hampir dirasakan setiap malam.

Bipolar

gangguan bipolar adalah gangguan mental yang ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Gangguan bipolar umumnya ditandai dengan perubahan emosi yang drastis, seperti:

  • Dari sangat bahagia menjadi sangat sedih.
  • Dari percaya diri menjadi pesimis.
  • Dari bersemangat menjadi malas beraktivitas.

Penyebab pasti terjadinya gangguan bipolar belum diketahui. Namun, terdapat dugaan bahwa gangguan bipolar merupakan dampak dari adanya gangguan pada senyawa alami yang berfungsi menjaga fungsi otak (neurotransmitter). Gangguan pada neurotransmitter itu sendiri diduga dipicu oleh beberapa faktor, seperti:

  • Genetik
  • Sosial
  • Lingkungan
  • Fisik

Gangguan Kecemasan

Penyebab gangguan kecemasan

  • Aktivitas berlebihan pada area otak yang terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku.
  • Ketidakseimbangan zat kimia otak, yaitu serotonin dan noradrenalin, yang terlibat dalam pengendalian dan pengaturan mood.
  • Faktor genetik, riwayat keluarga juga dapat meningkatkan risiko gangguan.
  • Memiliki riwayat mengalami kejadian traumatis atau menimbulkan stres, seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau penganiayaan anak.
  • Mengalami kondisi sakit dalam jangka panjang, seperti artritis.
  • Memiliki riwayat kecanduan alkohol atau narkoba.

Gejalanya berupa

  • Merasa khawatir dan resah.
  • Susah tidur atau berkonsentrasi.
  • Mudah marah.
  • Pusing, lelah, dan gemetar.
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi).
  • Nyeri otot, nyeri perut, dan nyeri kepala.
  • Berkeringat berlebihan.
  • Sesak napas.
  • Merasa sakit.

Skizofrenia

Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan perubahan tingkah laku yang aneh, mengalami halusinasi panca indera (mendengar, melihat, meraba, mengecap, mencium sesuatu yang tidak ada) dan waham (merasa menjadi sesuatu yang tidak nyata seperti diikuti, diawasi, dibicarakan).

Skizofrenia diketahui pula bisa menjadi penyebab depresi, suasana hati menjadi tak tenang, dan neurotisisme (mengalami kecemasan, kemurungan, kekhawatiran yang tinggi, mudah iri, frustasi, cemburuan, dan merasa kesepian).

gejala skizofrenia adalah sebagai berikut: Gejala psikotik positif: Halusinasi, seperti mendengar suara, delusi paranoid dan persepsi, keyakinan dan perilaku yang berlebihan atau terdistorsi. Gejala negatif: Penurunan kemampuan bicara, merencanakan, mengekspresikan emosi, atau menemukan kesenangan. Gejala disorganisasi: mulai kacau berpikir dan berbicara, kadang-kadang perilaku aneh atau gerakan abnormal. Gangguan kognisi: bermasalah dengan konsentrasi dan memori.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai